Kamu menerima tawaran dari universitas impian di London: diterima dengan syarat, tetapi kamu harus menyerahkan IELTS Academic dengan nilai minimal 7.5 overall, tanpa satu seksi pun di bawah 7.0. Kamu mengerjakan tes simulasi — 6.0. Reading lumayan, Listening juga, tetapi di Speaking kamu mulai berpikir dalam bahasa Indonesia di kepala lalu menerjemahkannya ke bahasa Inggris, dan Writing Task 2 milikmu terlihat seperti esai SMA: lima paragraf, nol kohesi, dan argumen yang berputar-putar tanpa arah. Selisih satu setengah band terdengar sepele — tetapi dalam IELTS itu adalah jurang yang menentukan apakah kamu terbang kuliah ke Oxford, atau tertahan satu tahun lagi dan harus mendaftar ulang.
IELTS bukan ujian yang bisa “lulus saja entah bagaimana”. Ini ujian yang band score tertentunya membuka atau menutup pintu ke universitas tertentu. Dan perbedaan antara 6.0 dan 7.5 bukan soal “bahasa Inggris sedikit lebih baik” — itu soal menguasai rubrik penilaian, teknik ujian, dan latihan sistematis bersama spesialis yang paham cara kerja ujian ini dari dalam. Dalam artikel ini saya akan menunjukkan cara memilih tutor IELTS, hal yang perlu diwaspadai, berapa biayanya, dan mengapa les 1:1 — terutama yang berfokus pada Speaking dan Writing — membuat perbedaan yang tidak bisa diberikan oleh kursus grup mana pun atau aplikasi mana pun.
Apa itu IELTS Academic dan bagaimana bentuk ujiannya?
IELTS (International English Language Testing System) adalah ujian bahasa Inggris yang diselenggarakan bersama oleh British Council, IDP, dan Cambridge Assessment English. Ada dua versi: IELTS Academic (yang diwajibkan universitas) dan IELTS General Training (untuk keperluan imigrasi dan profesional). Jika kamu mendaftar kuliah ke luar negeri — yang relevan untukmu hanyalah IELTS Academic.
Ujian terdiri dari empat seksi. Listening (30 menit) — empat rekaman dengan tingkat kesulitan yang meningkat, dari percakapan sehari-hari hingga kuliah akademik, totalnya 40 pertanyaan. Reading (60 menit) — tiga teks akademik panjang dengan pertanyaan yang menguji pemahaman detail, struktur, dan maksud penulis. Writing (60 menit) — dua tugas: Task 1 (mendeskripsikan grafik, tabel, atau diagram, minimal 150 kata) dan Task 2 (esai argumentatif, minimal 250 kata). Speaking (11–14 menit) — percakapan tatap muka dengan examiner, dibagi menjadi tiga bagian: perkenalan, monolog tentang topik yang diundi (2 menit), dan diskusi akademik.
Setiap seksi dinilai dalam skala 0–9 dengan kelipatan 0.5 band. Overall band score-mu adalah rata-rata dari empat seksi, dibulatkan ke 0.5 terdekat. Di sinilah permainannya dimulai: sebagian besar universitas top mensyaratkan bukan hanya overall score tertentu, tetapi juga nilai minimal per seksi. Oxford mensyaratkan 7.5 overall dengan minimal 7.0 di setiap seksi. Cambridge mensyaratkan 7.5 overall dengan minimal 7.0 di setiap seksi. Imperial College London — 7.0 overall dengan 6.5 per seksi (untuk sebagian besar program). Artinya, sekalipun kamu mendapat 8.5 di Reading tetapi 6.0 di Speaking — kamu tidak memenuhi syarat.
IELTS Academic adalah ujian pilihan pertama bagi universitas Inggris — University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, UCL, LSE, Edinburgh, St Andrews — semuanya memilih atau mewajibkan IELTS. IELTS juga diterima oleh sebagian besar universitas Eropa (Belanda, Skandinavia, Jerman) serta banyak universitas Amerika dan Australia. Jika universitas incaranmu ada di Inggris, IELTS adalah ujianmu. Jika kamu masih ragu antara IELTS dan TOEFL — baca panduan lengkap TOEFL vs IELTS kami.
Syarat IELTS Academic — universitas top 2026/2027
Band score minimal (overall + per seksi) untuk tahun akademik 2026/2027
| Universitas | Overall | Min. per seksi | Tingkat |
|---|---|---|---|
| University of Oxford | 7.5 | 7.0 (setiap seksi) | Menuntut |
| University of Cambridge | 7.5 | 7.0 (setiap seksi) | Menuntut |
| London School of Economics | 7.0 | 7.0 (setiap seksi) | Menuntut |
| Imperial College London | 7.0 | 6.5 (setiap seksi) | Menengah-tinggi |
| UCL | 6.5–7.5 | 6.0–6.5 (tergantung program) | Bervariasi |
| University of Edinburgh | 6.5–7.0 | 6.0–6.5 | Standar |
| University of St Andrews | 7.0 | 6.5 (setiap seksi) | Menengah-tinggi |
| King's College London | 7.0 | 6.5 (setiap seksi) | Menengah-tinggi |
| University of Manchester | 6.5 | 6.0 (setiap seksi) | Standar |
| University of Warwick | 6.5–7.0 | 6.0–6.5 | Standar |
| ETH Zurich | 7.0 | Tanpa minimum formal per seksi | Menengah-tinggi |
| TU Delft / UvA / Maastricht | 6.0–6.5 | 5.5–6.0 | Standar |
Sumber: situs resmi universitas, data tahun 2026/2027. Syarat dapat berbeda tergantung program.
Apa yang perlu diperhatikan saat memilih tutor IELTS?
Pasar “les IELTS” di Indonesia adalah lautan penawaran — dari mahasiswa Sastra Inggris hingga guru senior, dari penutur asli yang mengajar di Zoom hingga aplikasi berbasis AI. Masalahnya: sebagian besar opsi ini tidak berfungsi, karena persiapan IELTS bukanlah belajar bahasa Inggris. Ini latihan ujian. Guru bahasa Inggris, sehebat apa pun, tidak akan menyiapkanmu untuk IELTS jika ia tidak menguasai kriteria penilaian, tidak mampu mendiagnosis mengapa kamu mendapat 6.0 di Speaking alih-alih 7.0, dan tidak tahu apa beda band 6 dengan band 7 di Task Response, Coherence & Cohesion, Lexical Resource, dan Grammatical Range & Accuracy.
Berikut daftar kriteria yang sebaiknya memandu pilihanmu:
1. Skor IELTS pribadi 8.0+. Jika tutormu sendiri belum pernah meraih IELTS minimal 8.0 overall (idealnya 8.5+), dari mana ia tahu cara membawamu ke sana? Itu seperti pelatih sepak bola yang tidak pernah menendang bola. Tanyakan skornya. Jika ia mengelak menjawab — cari yang lain.
2. Penguasaan rubrik penilaian IELTS. Speaking dan Writing di IELTS dinilai berdasarkan kriteria yang sangat spesifik (band descriptors). Tutor yang baik harus mampu menjelaskan kepadamu secara konkret apa beda band 6.0 dan 7.0 di masing-masing dari empat kriteria Writing — dan apa yang harus kamu ubah untuk melompat dari satu level ke level berikutnya. Jika ia hanya berkata “tulis lebih baik” atau “berbicaralah lebih lancar” — itu bukan spesialis IELTS.
3. Praktik Speaking. IELTS Speaking adalah percakapan dengan manusia, bukan merekam ke mikrofon (seperti di TOEFL). Tutormu harus rutin menjalankan mock Speaking test bersamamu — simulasi penuh selama 14 menit dengan feedback yang berbasis kriteria. Jika sesi hanya terbatas pada “ayo ngobrol soal cuaca” — kamu membuang waktu.
4. Feedback Writing dengan band score konkret. Setelah setiap esai (Task 1 dan Task 2) kamu seharusnya menerima bukan hanya komentar stilistika, tetapi perkiraan band score di empat kategori: Task Achievement/Response, Coherence & Cohesion, Lexical Resource, Grammatical Range & Accuracy. Tanpa itu kamu tidak tahu apa yang harus diperbaiki.
5. Pengalaman dengan siswa penutur bahasa Indonesia. Penutur bahasa Indonesia punya pola kesalahan khas di IELTS — masalah ritme bicara (bahasa Indonesia bersifat syllable-timed, sementara bahasa Inggris stress-timed, sehingga intonasi terdengar jauh lebih datar), pola kalimat yang menghilangkan artikel a/the (karena bahasa Indonesia tidak punya artikel), dan kebingungan dengan tense (“yesterday I go” alih-alih “yesterday I went”). Tutor yang pernah bekerja dengan siswa Indonesia tahu di mana harus mencari masalahnya.
6. Fleksibilitas dan ketersediaan. Persiapan IELTS adalah maraton 2–4 bulan. Kamu butuh sesi rutin (2–3 kali seminggu), jadwal fleksibel (karena kamu masih sekolah, sibuk UTBK-SNBT, atau ujian lain), dan feedback cepat untuk tugas tulis di antara sesi. Tutor yang membalas pesan seminggu sekali — memperlambatmu.
Perbandingan opsi les IELTS untuk siswa Indonesia
Apa yang kamu dapatkan untuk uangmu? Perbandingan jujur empat jalur
| Kriteria | Mahasiswa / Freelancer | British Council / Kursus grup | Native speaker online | College Council |
|---|---|---|---|---|
| Harga per jam | Rp 75.000–300.000 | Rp 2–10 jt (per kursus) | Rp 200.000–500.000 | mulai Rp 1 jt (~USD 62) |
| Format | 1:1 online/tatap muka | Grup 6–15 orang | 1:1 online | 1:1 online |
| Skor IELTS pribadi 8.0+ | Jarang | Tidak selalu | Sering tanpa IELTS | Ya, diwajibkan |
| Mock Speaking test | Kadang | Terbatas (grup) | Ya, tanpa rubrik | Simulasi penuh + scoring |
| Writing feedback dengan band score | Jarang | Feedback umum | Koreksi, tanpa scoring | 4 kriteria + perkiraan band |
| Rencana belajar personal | Jarang | Program grup | Sebagian | Ya, berbasis diagnostik |
| Pengalaman dengan siswa internasional | Sering | Ya | Jarang | 500+ keluarga |
| Integrasi dengan pendaftaran kuliah | Tidak | Tidak | Tidak | Ya — esai, UCAS, konsultasi |
| Konsultasi pertama gratis | Kadang | Tidak | Kadang | Selalu |
Perbandingan berdasarkan tinjauan pasar les IELTS di Indonesia, Maret 2026. Harga bersifat ilustratif.
Seperti apa les IELTS di College Council?
College Council bukan sekolah bahasa dan bukan kursus IELTS. Ini firma konsultasi pendidikan dengan pengalaman 8 tahun yang telah membantu lebih dari 500 keluarga dalam proses pendaftaran ke universitas di Inggris, AS, dan Eropa — dengan tingkat penerimaan 95% ke universitas top 3 dalam daftar pilihan kandidat. Persiapan IELTS adalah salah satu kepingan dalam teka-teki ini, sering kali yang pertama, karena tanpa skor 7.0+ sisa dari aplikasi ke universitas Inggris menjadi tidak ada artinya.
Tutor kami adalah mahasiswa dan alumni universitas seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan LSE yang dulu mengambil IELTS (atau ujian setaranya) sendiri dan melewati seluruh proses rekrutmen. Mereka bukan guru bahasa Inggris yang “kebetulan juga menyiapkan IELTS” — mereka spesialis ujian yang tahu seperti apa tekanan ujian, karena mereka pernah mengalaminya. Mereka tahu apa yang dicari komite penerimaan, karena mereka sendiri diterima. Dan mereka tahu cara membawa siswa dari 6.0 ke 7.5 — karena mereka sudah melakukannya puluhan kali.
Beginilah les IELTS di College Council berlangsung:
Langkah 1 — Konsultasi gratis + tes diagnostik. Kami mulai dengan tes simulasi IELTS lengkap (Reading, Listening, Writing, Speaking). Tutor menganalisis hasil seksi demi seksi, mengidentifikasi pola kesalahan, dan menentukan level awalmu. Kami menetapkan target (misalnya 7.5 overall, minimal 7.0 per seksi), kerangka waktu, dan intensitas persiapan. Gratis, tanpa kewajiban.
Langkah 2 — Rencana belajar personal. Tutor menyusun rencana yang disesuaikan dengan titik lemahmu. Jika kamu kehilangan band di Speaking — lebih banyak sesi Speaking dengan mock test. Jika Writing Task 2-mu pincang — lebih banyak latihan tulis dengan feedback berbasis kriteria penilaian. Rencana ini mencakup sesi 1:1 (biasanya 2–3 kali seminggu) plus kerja mandiri harian (materi, latihan, drill).
Langkah 3 — Les 1:1. Sesi bersama tutor diselenggarakan online (Zoom/Google Meet), dengan jadwal fleksibel yang disesuaikan dengan jadwal pelajaranmu. Setiap sesi adalah kerja konkret pada satu atau dua seksi: mock Speaking dengan rekaman dan analisis, koreksi Writing dengan rincian band score di empat kategori, strategi Reading (scanning, skimming, matching headings), teknik Listening (predicting answers, note completion). Di antara sesi kamu menerima materi dan tugas rumah.
Langkah 4 — Tes simulasi rutin. Setiap 7–10 hari ada simulasi ujian penuh dalam kondisi yang mendekati ujian sungguhan. Analisis tren: apakah skor naik? Jenis tugas mana yang masih bermasalah? Tutor menyesuaikan rencana seketika.
Langkah 5 — Putaran terakhir. Mock test terakhir 5–7 hari sebelum ujian. Sesi taktis: manajemen waktu, teknik mengatasi stres, logistik hari ujian. Kamu masuk ke IELTS dengan percaya diri, karena kamu tahu skormu dengan ketelitian 0.5 band.
Dan jika selain IELTS kamu butuh bantuan dengan SAT, TOEFL, esai pendaftaran, atau seluruh proses rekrutmen — kamu tidak perlu mencari firma baru. College Council menangani seluruh proses, dari pemilihan universitas, konsultasi pendidikan, hingga persiapan ujian dan penulisan esai. Itu menghemat waktu, uang, dan ketenangan pikiran.
Mengapa Speaking dan Writing adalah seksi tempat tutor membuat perbedaan terbesar?
Reading dan Listening di IELTS adalah seksi yang belajar mandirinya bekerja relatif baik. Latihan yang cukup banyak, strategi yang tepat dalam mendekati pertanyaan, dan tes simulasi rutin dapat menaikkan band score-mu 1.0–1.5 dalam beberapa minggu. Speaking dan Writing adalah cerita yang sama sekali berbeda — dan justru karena itu tutor IELTS membuat perbedaan di seksi-seksi ini yang tidak mampu direplikasi oleh buku teks mana pun, aplikasi mana pun, atau kursus grup mana pun.
Speaking — mengapa penutur bahasa Indonesia kehilangan band
IELTS Speaking adalah percakapan dengan examiner, dinilai dalam empat kriteria: Fluency & Coherence, Lexical Resource, Grammatical Range & Accuracy, Pronunciation. Siswa Indonesia paling sering kehilangan poin di dua tempat:
Pronunciation (intonasi dan ritme). Bahasa Indonesia adalah bahasa yang bersifat syllable-timed — setiap suku kata diucapkan dengan durasi yang relatif sama, sehingga terdengar lebih datar dibandingkan bahasa Inggris yang bersifat stress-timed (di mana kata-kata penting ditekankan dan suku kata lain “ditelan”). Di IELTS Speaking examiner menilai bukan hanya apakah kamu melafalkan kata dengan benar, tetapi apakah intonasimu terdengar alami: apakah kamu menekankan kata-kata penting, apakah intonasimu naik pada pertanyaan, apakah kamu memakai jeda retoris. Penutur Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan “datar” — bahkan dengan tata bahasa benar dan kosakata kaya — mendapat 6.0–6.5 di Pronunciation alih-alih 7.0+. Tutor melihat (dan mendengar) masalah ini seketika dan menggarapnya sesi demi sesi. Ditambah lagi, banyak penutur Indonesia cenderung menyederhanakan gugus konsonan di akhir kata bahasa Inggris (misalnya “fact”, “asked”, “world”), dan tutor melatih hal ini secara spesifik.
Fluency & Coherence (koherensi tuturan). Siswa Indonesia yang khas, ketika diminta menyampaikan monolog 2 menit (Part 2), terjebak di salah satu dari dua titik ekstrem: entah berbicara kalimat demi kalimat tanpa kata penghubung dan struktur logis, entah mulai membangun kalimat yang amat berbelit, tersesat di tengah jalan, lalu terdiam. Band 7.0+ menuntut tuturan yang lancar dan koheren dengan connector alami (however, that being said, on the other hand, what I mean is…) dan kemampuan mengembangkan ide tanpa “membeku”. Ini keterampilan yang dibangun semata-mata lewat praktik berbicara dengan feedback — dan di sinilah peran tutor tak tergantikan.
Writing — mengapa Task 2 adalah jebakan
IELTS Writing Task 2 adalah esai argumentatif yang dinilai dalam empat kriteria: Task Response, Coherence & Cohesion, Lexical Resource, Grammatical Range & Accuracy. Siswa Indonesia biasanya mendapat 5.5–6.0, bahkan jika bahasa Inggris mereka sudah bagus. Mengapa?
Struktur. Sistem pendidikan Indonesia mengajarkan menulis karangan “dari umum ke khusus” dengan rangkuman di akhir. IELTS Task 2 menuntut hal yang berbeda — tesis yang jelas di paragraf pertama, dua–tiga paragraf argumentatif dengan topic sentence dan supporting detail, serta konklusi yang tidak mengulang pendahuluan tetapi menyintesiskan argumen. Tutor mengajarkanmu struktur ini dan memberi feedback pada setiap esai, sampai struktur itu menjadi otomatis.
Coherence & Cohesion. Band 6.0 di kriteria ini berarti: “uses cohesive devices but not always appropriately”. Band 7.0 berarti: “uses a range of cohesive devices appropriately although there may be some under/over-use”. Perbedaannya halus, tetapi tutor yang hafal rubrik IELTS melihatnya seketika dan mampu menunjukkan caramu melompat dari satu level ke level berikutnya — dengan mengubah dua–tiga kebiasaan. Faktor yang memperberat bagi penutur Indonesia: karena bahasa Indonesia tidak punya artikel (a/the) dan tidak menandai tense lewat infleksi kata kerja, kesalahan kecil yang berulang menggerus skor Grammatical Range & Accuracy. Tutor menargetkan pola ini secara langsung.
Task 1 (deskripsi data). Inilah seksi yang membuat banyak siswa Indonesia kehilangan band secara tidak proporsional, karena mereka sebelumnya tidak pernah menulis deskripsi grafik dalam bahasa Inggris. Tutor mengajarkanmu struktur (overview, body 1, body 2), kosakata kunci (a significant increase, remained stable, peaked at, a gradual decline) dan — yang terpenting — seleksi data (kamu tidak mendeskripsikan semuanya, kamu memilih tren-tren kunci). 10–15 latihan dengan feedback dan Task 1-mu melompat dari 5.5 ke 7.0.
Rencana persiapan IELTS — berapa lama waktu yang kamu butuhkan?
Kerangka waktu perkiraan menurut level awal, target: 7.0–7.5 overall
Sesi 1:1: 10–15 pertemuan
Fokus: Speaking fluency, struktur Writing Task 2, pola Pronunciation
Biaya CC: Rp 10–15 juta
Profil khas: Siswa dengan B2+/C1, Reading/Listening bagus, Speaking dan Writing lebih lemah
Sesi 1:1: 18–30 pertemuan
Fokus: Keempat seksi, membangun kosakata akademik, tata bahasa lanjutan, Speaking intensif
Biaya CC: Rp 18–30 juta
Profil khas: Siswa dengan B2 solid, butuh kerja di setiap seksi
Sesi 1:1: 30–50 pertemuan
Fokus: Mula-mula general English hingga B2, lalu latihan ujian. Kerja intensif di semua seksi.
Biaya CC: Rp 30–50 juta
Profil khas: Siswa dengan B1/B1+, butuh persiapan lebih panjang dan kesabaran
Kerangka waktu bersifat perkiraan, bergantung pada intensitas belajar, komitmen, dan bakat individu. College Council, 2026.
Berapa biaya les IELTS?
Sebelum kita bicara harga — mari bicara biaya peluang. Ujian IELTS sendiri berbiaya sekitar Rp 3,5 juta untuk satu kali percobaan. Jika kamu mendapat 6.0 alih-alih 7.5, karena belajar sendiri atau dengan tutor murah — kamu membayar Rp 3,5 juta lagi untuk percobaan kedua. Lalu ketiga. Lalu keempat. Dan setiap percobaan bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu — 4–8 minggu persiapan tambahan yang seharusnya bisa kamu pakai untuk esai, formulir pendaftaran, atau personal statement di UCAS. Dalam skenario terburuk kamu melewatkan deadline dan kehilangan satu tahun penuh.
Pasar les IELTS di Indonesia pada 2026 kurang lebih seperti ini:
- Mahasiswa Sastra Inggris / freelancer: Rp 75.000–300.000/jam. Opsi termurah, tetapi kualitasnya undian. Sebagian dari mereka menguasai bahasa Inggris dengan baik, tetapi tidak menguasai IELTS — dan itu dua hal yang berbeda.
- Kursus grup (British Council, lembaga kursus): Rp 2–10 juta per kursus selama beberapa bulan. Dasar yang baik, tetapi dalam grup 8–15 orang kamu tidak akan mendapat feedback individual untuk Speaking maupun Writing.
- Native speaker online (italki, Preply): Rp 200.000–500.000/jam. Berbicara dengan indah, tetapi apakah ia menguasai rubrik IELTS? Apakah ia mampu memberitahumu mengapa kamu mendapat 6.0 dan bukan 7.0 di Coherence & Cohesion? Sering kali tidak.
- College Council: mulai dari Rp 1 juta/jam (sekitar USD 62) untuk sesi 1:1 dengan tutor dari universitas top. Konsultasi pertama gratis. Paket khas: 10–20 sesi (Rp 10–20 juta), persiapan lengkap dari diagnostik hingga hari ujian.
Rp 1 juta per jam memang lebih mahal daripada mahasiswa di Preply. Tetapi untuk Rp 1 juta kamu mendapat tutor yang sendiri meraih IELTS 8.5, berkuliah di Cambridge, dan telah menyiapkan 30 siswa hingga skor 7.0+. Kamu mendapat mock Speaking test dengan feedback berbasis rubrik. Kamu mendapat Writing feedback dengan band score di empat kategori. Kamu mendapat rencana belajar yang disesuaikan dengan titik lemah dan deadline-mu. Dan kamu mendapat integrasi dengan seluruh proses pendaftaran — karena IELTS baru permulaan.
Konsultasi pertama gratis. Sebelum membayar satu rupiah pun, kamu tahu persis di mana posisimu, berapa lama waktu yang kamu butuhkan, dan berapa biayanya. Nol risiko.
IELTS atau TOEFL — ujian mana yang harus dipilih?
Jawaban singkat: jika kamu mendaftar ke universitas di Inggris — IELTS. Jika kamu mendaftar terutama ke AS — TOEFL. Jika kamu mendaftar ke keduanya — cek syarat universitas tertentu, karena banyak yang menerima kedua ujian.
Perbedaan utama:
- Speaking: IELTS adalah percakapan dengan examiner (tatap muka). TOEFL adalah merekam ke mikrofon (tanpa interaksi). Bagi yang ekstrovert IELTS Speaking lebih mudah. Bagi yang introvert — TOEFL.
- Writing: IELTS menuntut deskripsi grafik (Task 1) dan esai argumentatif (Task 2). TOEFL dalam format baru 2026 — bentuk yang lebih pendek (email, pesan) dan tugas terintegrasi.
- Masa berlaku: kedua ujian berlaku 2 tahun.
- Biaya: IELTS sekitar Rp 3,5 juta, TOEFL sekitar Rp 4 juta (250 USD).
- Penerimaan di Eropa: IELTS lebih disukai di Inggris, kedua opsi diterima di Belanda, Skandinavia, Jerman, Prancis, Swiss.
Perbandingan rinci, argumen pro dan kontra, serta rekomendasi menurut jenis universitas bisa kamu temukan di panduan lengkap TOEFL vs IELTS kami. Jika kamu memutuskan TOEFL — baca artikel tentang persiapan TOEFL dengan tutor, tempat kami membahas aplikasi TOEFL kami dan proses persiapan langkah demi langkah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Langkah berikutnya sederhana
Kamu tidak perlu mengambil keputusan apa pun sekarang selain satu hal: cari tahu di mana posisimu. Jadwalkan konsultasi gratis dengan tutor kami — kami akan menjalankan tes diagnostik IELTS lengkap, menganalisis hasilmu seksi demi seksi, dan memberitahumu dengan jujur: berapa lama waktu yang kamu butuhkan, berapa biayanya, dan apakah kamu memang membutuhkan tutor (karena jika kamu sudah di 7.0 dan mengincar 7.5 — mungkin cukup dengan kerja mandiri memakai materi yang kami berikan gratis).
IELTS bukan ujian yang “nanti lihat saja”. Ini ujian yang band score tertentunya menentukan apakah aplikasimu ke Oxford, Cambridge, atau Imperial bahkan akan dipertimbangkan sama sekali. Tutor tidak akan mengajarimu bahasa Inggris dalam tiga bulan — tetapi ia akan mengajarimu cara mengubah bahasa Inggrismu menjadi band score yang kamu butuhkan. Dan itulah yang kami lakukan di College Council, selama 8 tahun, untuk lebih dari 500 keluarga.
Cek juga: TOEFL vs IELTS — sertifikat mana yang harus dipilih? | Les TOEFL di College Council | Kuliah di Inggris — panduan | Bagaimana memilih konselor pendidikan?
Panduan IELTS terkait
Cek panduan lain dari seri kami tentang IELTS untuk merencanakan seluruh jalur persiapanmu: